Juli 18, 2017

Gereja Iconic dan Unik di Medan

Setelah tiga kali lebaran dan tiga kali puasa absen dari dunia penggoblokan (eh!) pengeblog-an, akhirnya aku kembali dengan cerita lama yang baru (?) (eh?). Atau cerita baru yang lama (?) (eh?). Entahlah 😀. Jadi gini. Intinya, aku pindah ke Medan (kota terbesar ke tiga di Indonesia *abaikan) pada 21 November 2016 (soal tanggal aku emang gampang ingat, apalagi tanggal kita jadian (eh?) 😳). Skip skip skip. 

Jadi, pas perayaan Natal aku stay di Medan. Medan itu salah satu kota di Indonesia dengan banyak penduduk yang beragama Kristen. Meski begitu, perayaan Natal disini di rumah sepi, (ya iyalah, yang ramai mah di gereja 😁). Ehm, sehari setelah Natal, aku putuskan untuk mengunjungi Gereja yang iconic di kota Medan. Menurutku, gereja ini sangat wajib dikunjungi jika kalian menginjakkan kaki di kota Medan. Kenapa? Karena gereja ini sangat unik. Gereja dengan arsitek India. Yang belum tau, penasaran kan? 😀


Gereja Graha Maria Annai Velangkanni

Namanya Gereja Maria Velangkanni boru Sitompul (eh!!!) 😂😂😂. Yang bener, Gereja Graha Maria Annai Velangkanni. Gereja Katolik yang dibuka pada tahun 2005 ini terletak di Jl. Sakura III No. 7, Perumahan Taman Sakura Indah, Tanjung Selamat, Medan Tuntungan, Kota Medan, Sumatera Utara 20135 (lengkap kali, bah!!! 😁). 


ini lokasinya

Sayangnya aku nggak sempat masuk, takut tidak diijinkan. Soalnya kan masih dalam perayaan Natal. Tapi setidaknya aku sempat jalan ke atas sambil selfie, hehehe 😁. Dan entah kenapa aku PD banget ketika selfie. Mungkin karena aku pikir nggak ada orang yang kenal aku, and who cares? 😁😁 Tapi, dilihat-lihat, memang keren gereja ini. Dan katanya, kebanyakan yang beribadah di gereja ini orang Katolik keturunan Tamil (India). Tapi pas aku kesana, nggak banyak terlihat orang keturunan India sih. 

Untuk biaya, seingatku nggak ada. Biaya masuk gratis. Kalaupun ada, mungkin bayar parkir kendaraan itu aja. Irit dan hemat kan? 😁






September 09, 2016

Ulang Tahun di Teluk Cinta

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 4 September 2016, usiaku genap 26 tahun (berasa tua, hahaha). Berturut-turut, selama enam tahun, peringatan hari ulang tahun berada di Jambi. Mumpung sekarang sudah di rumah (dan menganggur) aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Biasanya cuma kerja, ngantor, makan, ato nonton, ya begitu-begitu saja. Untungnya, aku nggak sendiri, ada saudara kembar (Rini, sahabat yang berulang tahun pada tanggal yang sama yang aku kenal sejak masuk SMP tahun 2002; semakin berasa tua, hahaha). Ide awalnya sih ingin camping  ke pantai atau kemana lalu melihat keindahan sunrise. Rencana awal, kami dan sahabat kami yang lain ingin ke Kawah Ijen. Melihat blue fire, sunrise, etc. Sounds like a plan, right? Taulah, kalau ada rencana pergi bareng, bisanya ada bedebah yang tidak jelas. Entah itu mengundurkan diri, tidak bisa dihubungi, tidak memberikan kepastian, atau apalah, you name it.

Akhirnya, hanya tinggal bertiga, aku, the twin, dan Erin (sahabat kami yang sedang galau) memutuskan untuk pergi ke lokasi yang jaraknya tidak terlalu jauh, Pantai Payangan. Pantai yang terletak di kecamatan Ambulu, Jember, Jawa Timur; yang dapat ditempuh sekitar 1 -  1,5 jam dari rumahku (kecamatan Umbulsari) maupun dari kota Jember. Aku berangkat dari rumah, dan menjemput Erin, sedangkan Rini berangkat sendiri dari Jember. Gara-gara buru-buru, aku membawa mini tripod, tapi malah lupa membawa kamera. Damn it!!! Terpaksa harus ikhlas hanya menggunakan kamera hp.

Kami janjian bertemu di perempatan Ambulu, dan aku sama Erin sampai duluan. Kami menunggu di sisi selatan perempatan. Entah apa yang aneh dari kami, puluhan orang yang berlalu-lalang di jalanan menatap ke arah kami. Tak hanya menoleh, mereka seolah sedang memperhatikan kami, dan ingin tau apa yang kami lakukan. Kami pun hanya tertawa sambil mengobrol ngalor-ngidul. 



Selfie pertama untuk menandakan foto yang diambil genap pada usia 26 tahun (nggak penting banget, hahaha).

Sekitar setengah jam menunggu, akhirnya si Nungging, sapaan akrab Rini, menunjukkan batang hidungnya. Tanpa menunggu lama, kami segera berangkat. Untuk menuju pantai Payangan, kita akan melewati dua destinasi populer di Jember, yaitu pantai Papuma dan pantai Watu Ulo. Sesampainya di daerah pantai Payangan, akan ada beberapa tukang parkir yang memanggil-manggil meminta agar kendaraan diparkir disitu. Kalau tujuannya memang ke pantai, sah-sah saja sih mau parkir di mana saja. Namun, kalau ingin ke Teluk Love, lebih baik abaikan suara-suara itu, dan lanjut sampai tempat parkir yang terakhir (paling selatan).

Nggak ingat umur mah  aku bakal lompat-lompat kegirangan begitu kaki menyentuh pasir yang halus dan hangat. Meskipun masih jam delapan kurang, namun mataharinya sudah cukup panas dan menyengat. Sisi positifnya, hanya dengan biaya masuk Rp. 5.000,- per ekor, eh per orang, kalian sudah bisa menikmati pemandangan yang indah. Kami lalu mulai mendaki bukit.



Pesan yang wajib dilakukan, tidak sekedar dibaca.  Model terpaksa dipotong karena tidak sesuai dengan SNI, hihihi... 




Wild Flowers 

It's my lucky day, I guess. Got this pic in just one shot, and I didn't need any. Found this flower when I was about to go hiking on some kind of hills around Payangan Beach. Anyway, 'till I wrote this post, I didn't realize there are a few ants on the flowers. 


O ya, sebelum pendakian disediakan tongkat untuk mendaki secara gratis. Bagi yang suka gratisan, pasti tidak akan mikir panjang untuk menggunakannya. Tapi menurutku, menggunakan tongkat tersebut sangat tidak membantu, justru malah merepotkan, mengingat medannya cukup mudah. Sedikit naik ke atas saja, sudah disuguhi pemandangan biru begini.




The Rock